Sabtu, 01 Februari 2014

Nyanyian Puteri Nawangsari




Raja Purabaya hanya memiliki puteri tunggal. Namanya Puteri Nawangsari.  Ibunda Puteri Nawangsari telah lama meninggal dunia sehingga puteri Nawangsari  sering merasa kesepian. Meskipun ayahnya sangat menyayanginya, namun kesibukan sang raja dalam mengurus negara sering menyita waktu sehingga tidak memiliki cukup banyak waktu untuk memperhatikan puteri Nawangsari.  

Itulah sebabnya Putri Nawangsari sering merasakan kesepian. Dia sering menghabiskan waktunya ditaman depan kamarnya dan duduk menyendiri disana sambil bersenandung. Suara Putri sungguh merdu sekali. Bila Puteri sedang bernyanyi, semua burung-burung berhenti berkicau dan bertengger diatas daun untuk mendengarkan nyanyian Puteri Nawangsari. Sementara Puteri Nawangsari sendiri seakan tidak menyadari bila suaranya sungguh merdu bagaikan bulu perindu.

Pada suatu hari, kerajaan  mereka diserang musuh. Raja Purbaya mati ditangan Pangeran Rangga Permana,  putra mahkota kerajaan Martalaya, musuh yang menghancurkan kerajaan Raja Purbaya. Puteri Nawangsari   merasa sedih melihat ayahnya telah menjadi mayat. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis dan bersembunyi di reruntuhan gudang belakang istana yang sudah dihancurkan musuh.
Ketika malam tiba, diam-diam Puteri Nawangsari   keluar dari tempat persembunyian. Puteri Nawangsari berlari masuk kedalam hutan dan bersembunyi disana. Dia merasa sedih sekali melihat kerajaan ayahnya telah hancur dan dikuasaimusuh.

Puteri Nawangsari   terus masuk kedalam hutan hingga akhirnya dia tiba di sebuah gubuk yang sangat sederhana. Puteri Nawangsari   yang sudah kelelahan dan merasa lapar, segera masuk kedalam gubuk itu. Dia melihat seorang nenek tua sedang meramu daun-daunan.
“Siapakah engkau?” tanya nenek itu dengan suara lirih.
Puteri Nawangsari   menceritakan siapa dirinya dengan sesungguhnya. Nenek itu mendengarkan dengan seksama. Ditatapnya wajah Puteri Nawangsari   dengan perasaan iba.
“Kau senasib dengan aku.” Kata nenek itu dengan suara tersendat. “Aku juga dahulu adalah seorang puteri raja. Kerajaan ayahku dihancurkan musuh. Akulah satu-satunya anggota keluarga kerajaan yang berhasil menyelamatkan diri. Seluruh keluargaku dibunuh oleh musuh ayahku.” 
“Oh, benarkah begitu, nek?” Puteri Nawangsari  terperangah tak percaya.
Nenek itu mengangguk. “Dan musuh yang menghancurkan kerajaanku adalah Raja Saradipa, raja kerajaan Martalaya.”
“Apa? Raja Saradipa  adalah ayah pangeran Rangga Permana.”
“Ya, musuh kita ternyata sama dan nasib kita pun sama.” Nenek itu menganggukan kepalanya. Ditatapnya wajah Puteri Nawangsari, namun tiba-tiba nenek itu memekik keras. “Tidak! Kau tidak boleh bernasib sama seperti aku! Kau tidak boleh menyia-nyiakan hidupmu. Dulu, ketika kerajaanku diserang, usiaku sama denganmu. Dan aku berhasil menyelamatkan diri. Hidupku selamat tapi sia-sia. Tak ada yang kukerjakan dihutan ini selain meramu obat-obatan dan sesekali menolong penduduk desa yang sakit. Tidak, kau tidak boleh sama dengan aku.”

Puteri Nawangsari  mendengarkan kata-kata si nenek dengan penuh perhatian. Dia tidak memahami apa maksud si nenek.
“Sekarang kau tinggalah bersama aku. Aku punya rencana untukmu.” Kata si nenek dengan suara bersemangat.
Beberapa hari lamanya Puteri Nawangsari  tinggal bersama nenek itu. Suatu malam, nenek itu menemui Puteri Nawangsari dikamarnya.
“Aku mendengar suaramu sungguh merdu sekali. Pergilah menyamar kekerajaan Martalaya. Melamarlah untuk menjadi pelayan diistana. Bila ada kesempatan, bernyanyilah. Usahakan agar Pangeran Rangga Permana mendengarkan nyanyianmu. Dia akan terpikat kepadamu. Usahakan agar Pangeran Rangga Permana mengawinimu. Setelah itu, kita bisa membalas dendam kematian ayah kita dan juga kehancuran kerajaan kita.”

Puteri Nawangsari  merasa keberatan dengan saran nenek itu namun dia tidak berani membantah karena nenek itu sudah menolongnya dari kesulitan. Esok harinya Puteri Nawangsari  pergi ke istana Martalaya. Beruntung, dia diterima sebagai pelayan istana. Tugasnya adalah menghantarkan buah-buahan dan makanan ringan setiap pagi dan sore kekamar Pangeran Rangga Permana. Selama beberapa waktu Puteri Nawangsari  menjalankan pekerjaan itu. Seperti saran si nenek, pada waktu luang Puteri Nawangsari  duduk ditaman dan bernyanyi dengan suaranya yang merdu. Karena suasana hati Puteri Nawangsari  sedang sedih, lagu-lagu yang dinyanyikannya terasa menyentuh kalbu dan menimbulkan perasaan haru.

Pada suatu hari Pangeran Rangga Permana  sedang duduk dikamarnya. Dia merasa tertarik mendengar suara seseorang yang sedang bernyanyi. Pangeran rangga Permana  mendekati jendela. Ditaman istana, dia melihat pelayan cantik yang setiap hari mengantarkan buah-buahan dan makanan kekamarnya sedang duduk dibangku taman sambil bernyanyi.

Pangeran Rangga Permana  tak kuasa menahan perasaannya. Dia pergi ketaman istana dan menemui Puteri Nawangsari. Pangeran Rangga Permana  bersembunyi dibalik sebuah pohon besar mendengarkan nyanyian Puteri Nawangsari. Ketika Puteri Nawangsari selesai bernyanyi, Pangeran Rangga Permana  keluar dari tempat persembunyiannya dan bertepuk tangan.
“Suaramu merdu  sekali, Nawang.” Puji sang pangeran. “Kau lihat, burung-burungpun berhenti berkicau ketika kau sedang bernyanyi.”

Puteri Nawangsari  hanya tersenyum malu mendengar pujian Pangeran Rangga Permana. Sejak hari itu, hubungan sang pangeran menjadi akrab dengan Puteri Nawangsari. Bahkan raja dan permaisuri pun tidak melarang hubungan sang pangeran dengan Nawangsari  karena raja dan permaisuripun sangat senang mendengarkan suara Nawangsari yang merdu. Bahkan tidak lama kemudian  Pangeran Rangga Permana menikah dengan Nawangsari. Pesta perkawinan mereka diselenggarakan dengan meriah. Tidak ada seorangpun dikerajaan Martalaya yang mengetahui bahwa Nawangsari adalah puteri Raja Purbaya dari kerajaan Sidayu yang sudah mereka hancurkan.
Suatu hari Puteri Nawangsari  sedang memetik bunga ditaman istana ketika tiba-tiba nenek dihutan itu datang.

“Sekarang sudah tiba saatnya untuk membalas dendam, Nawangsari.”  Kata nenek itu mengejutkan Puteri Nawangsari  yang tidak mengira dengan kedatangannya. “Bila malam tiba, ketika suamimu sudah lelap tertidur, bunuhlah dia. Lalu kau diam-diam menyelinap kedalam kamar raja dan permaisuri. Bunuh pula mereka. Setelah itu kau kaburlah diam-diam. Aku akan menunggumu diluar pintu istana. Kita berdua akan menyelamatkan diri setelah membalas dendam.”
Puteri Nawangsari  menatap si nenek dengan bingung. Dia mengelus perutnya. Dia sedang hamil tiga bulan. Oh, tidak mungkin dia membunuh suaminya yang sebentar lagi akan menjadi ayah dari bayi yang dikandungnya. Namun lagi-lagi Puteri Nawangsari  tidak sanggup untuk membantah nenek itu. Dia hanya diam saja ketika nenek itu menyelipkan tiga buah belati dibalik gaunnya.

Malam itu Puteri Nawangsari  merasa gelisah sekali. Dia tak sanggup memejamkan matanya. Dilihatnya suaminya telah tertidur.
Puteri Nawangsari  memperhatikan suaminya. Perasaannya campur aduk. Dia membenci Pangeran Rangga Permana  karena telah membunuh ayahnya dan menghancurkan kerajaannya. Namun setelah dia menjalankan perintah si nenek dan kemudian rencana mereka berhasil sesuai dengan keinginan si nenek sang pangeran mengawininya, rasanya dia tidak mungkin membunuh laki-laki yang telah menjadi suaminya. Lagi pula dia sangat mencintai dan menyayangi Pangeran Rangga Permana seperti halnya sang pangeran pun mencintai dan menyayangi dirinya. namun untuk membantah si nenek pun dia tidak berani.

Puteri Nawangsari  mengambil belati yang disembunyikan dibawah bantalnya. Diangkatnya belati itu diatas dada suaminya, namun tangannya terasa bergetar. Berkali-kali Puteri Nawangsari  mencoba namun selalu saja dia tak kuasa untuk melakukannya. Akhirnya belati itu terjatuh kelantai menimbulkan bunyi yang nyarin. Pangeran Rangga Permana  terbangun. Dia heran melihat sebuah belati tergeletak diatas lantai. Dipungutnya belati itu.
“Ada apa, Nawang?” Tanya Pangeran Rangga Permana.
Puteri Nawangsari  tak sanggup berbohong. Dia menceritakan segalanya kepada suaminya. Dia juga menceritakan siapa dirinya sebenarnya. Pangeran Rangga Permana  mendengarkan dengan seksama. “Sebenarnya kau punya kesempatan untuk membunuh aku. Tidurku barusan lelap sekali. Kenapa engkau tidak membunuhku?” Tanya Pangeran Rangga Permana.

“Bagaimana mungkin aku dapat membunuhmu? Engkau adalah suamiku dan calon ayah dari bayi yang sedang kukandung ini.” Sahut Puteri Nawangsari sambil menangis.
Pangeran Rangga Permana memeluknya dengan penuh haru. Pangeran lalu pergi kekamar ayah dan ibunya menceritakan apa yang baru saja terjadi. Raja Saradipa dan permaisuri merasa terkejut. Mereka lalu menyuruh ponggawa menangkap si nenek yang sedang menunggu Puteri Nawangsari  didepan pintu gerbang. Tak lama kemudian si nenek berhasil ditangkap dan dimasukan kedalam penjara.

Sementara Puteri Nawangsari, setelah melahirkan putranya dia merasa gelisah tak menentu. Meskipun suaminya sangat mencintainya, namun dia selalu dibebani perasaan berdosa kepada ayahnya karena dia menikah dengan orang yang telah membunuh ayahnya. Akhirnya Puteri Nawangsari terganggu jiwanya. Dia sering menjerit-jerit setiap malam. Pangeran Rangga Permana  berusaha menyembuhkan istrinya. Namun akhirnya Puteri Nawangsari  meninggal karena tekanan jiwa.

Pangeran  Rangga Permana  merasa menyesal dengan perbuatannya dan kekejaman leluhurnya. Nenek itu dibebaskan. Ketika diangkat menjadi raja, pangeran Rangga Permana  memerintah dengan adil dan bijaksana. Dia tak pernah lagi memerangi kerajaan lain karena perang menimbulkan penderitaan. Hingga akhir hayatnya, Pangeran Rangga Permana  tidak menikah lagi karena cintanya hanya untuk Puteri Nawangsari.



http://batiksaca.blogspot.com/2013/05/nyanyian-puteri-nawangsari.html

Rabu, 25 Desember 2013

BADAN YANG MENENTANG GANJA

Namun Pemerhati masalah anti narkoba yang juga Wakil Ketua Komisi III DPR, Aziz Syamsudin menilai bahwa agak sulit untuk memberikan legalisasi untuk melegalisasi ganja karena bertentangan dengan UU No 35/2009 tentang Narkotika. ” Agak sulit untuk mengamandemen UU tersebut jika berkenaan dengan legalisasi ganja,’katanya menanggapi gerakan Kelompok Lingkar Ganja Nusantara (LGN) yang berjuang agar ganja dilegalkan.

Sementara Sekjen DPP Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Ashar Surjobroto. Anshar menilai, bahwa kami menentang apapun bentuknya untuk melegalisasi ganja karena bisa menjadi gerbang lemahnya penegakan hukum serta gerbang legalisasi narkoba lainnya. “Ini menjadi malapetaka buat bagi keutuhan bangsa khususnya generasi muda,” tegas Anshar yang juga anggota Presidium Forum LSM Anti Narkoba Nasional.

Jakarta – Selain banyak mudaratnya, ganja juga memiliki manfaat. Hal inilah yang melatarbelakangi Indonesia National Institute on Drug Abuse (INIDA) meneliti manfaat ganja di Indonesia sehingga bisa dilegalkan penggunaannya. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amidhan menentang keras ide legalisasi ganja di Indonesia. Ide itu akan mematahkan semangat kampanye antinarkoba di Indonesia selama ini. Semua yang telah dilakukan untuk memerangi narkoba baik dari segi biaya maupun tenaga akan sia-sia. Mental jadi down habis. “Itu akan menimbulkan dampak mentalitas yang luar biasa. Akan memutarbalikkan ke titik nol kampanye narkoba yang selama ini kita galakkan. Ada wacana melegalkan saja akan mengendorkan semangat kita,” ujarnya kepada detikcom, Senin (2/7/2007).


Menurut Amidhan, penelitian apa pun yang dilakukan pasti akan mencari manfaatnya. Padahal sebenarnya ganja itu lebih banyak mudaratnya. Karena manusia cenderung berbuat jelek, dengan adanya legalitas ganja pasti yang diambil adalah mudaratnya bukan manfaatnya. “Seperti minuman keras diharamkan Alquran karena dianggap lebih besar mudaratnya. Kalau dipakai untuk kesehatan, kan sudah juga. Tapi masih saja sekarang dipakai untuk mudarat juga,”tukasnya. Dikatakan Amidhan, Indonesia tidak bisa disamakan dengan negara lain yang telah melegalkan ganja. Indonesia sangat berbeda dari segi moral dengan negara lain. “Kalau dilegalkan, Aceh itu nanti jadi kebun ganja semua isinya. Ganja akan melumpuhkan bangsa,” tegas Amidhan. Amidhan menilai, jika ganja dilegalkan maka hal ini akan membuka kesempatan bagi seseorang untuk bisa mendorong orang menyimpan ganja dan memanfaatkannya untuk hal-hal negatif. “Nanti cenderung lebih jauh. Pokoknya nggak bisa. Berarti nanti setiap orang bisa menyimpan sesukanya di dalam rumah dengan alasan bisa jadi bumbu masakan,” cetusnya. (ziz/nrl).

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NO.35 TAHUN 2009 TENTANG NARKOTIKA
http://bataviase.co.id/node/673093

No Way untuk Legalisasi Ganja di Indonesia
• Media Indonesia
• Opini

Lingkar Ganja Nusantara terus mengampanyekan ganja dikeluarkan dari daftar narkotika. Ratna Nuraini GERAKAN Nasional Anti Narkotika (Granat) menyerukan tidak satu pun alasan yang bisa digunakan untuk melegalkan pemakaian ganja. “Noway, noexaise untuk ganja. Ini sangat bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 mengenai Narkotika,” tandas Ketua Dewan Pemimpin Pusat Granat Sarmoedjie di Jakarta, kemarin.

Seruan Sarmoedjie berkaitan dengan kampanye komunitas Lingkar Ganja Nusantara (LGN), yang terus menuntut pemerintah meneliti manfaat dan melegalkan ganja, dengan berdemo setiap akhir pekan selama bulan Mei. Meskipun komunitas LGN sudah mendapatkan persetujuan dari Kementerian Hukum dan HAM untuk membuat Yayasan Peneliti Ganja, bagi Granat hal itu bukan merupakan dukungan dari pemerintah. Purnawirawan Kolonel Angkatan Laut ini menyatakan tidak mudah mengubah perundang. undangan yang ada di negara ini, apalagi untuk melegalisasi ganja. Badan Narkotika Nasional (BNN) juga menentang kampanye LGN. Deputi Pemberantasan Narkoba BNN Tommy Sagiman mengatakan pihaknya mengedepankan Undang-Undang No 35 tahun 2009 tentang Narkotika yang salah satu isinya melarang peredaran narkoba termasuk ganja. “Undang-undang harus kita tegakkan. Sisi legal hukum positif, sesuai dengan Undang-Undang No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, jelas itu dilarang,” paparnya, kemarin.

Kandungan senyawa tetra Itydro ainnabinol yang ada pada ganja sangat membahayakan bagi kesehatan. “Setelah mengisapnya bisa menyebabkan pusing, sakit, dan mual,” imbuh Tommy. Pandangan tersebut tentu ditentang Ketua LGN Dira Naraya. Menurutnya, ganja memiliki manfaat di bidang industri dan medis. “Industri bisa memproduksi 50.000 produk termasuk kosme-tik dari ganja,” ujarnya beberapa waktu lalu. Di bidang medis, manusia sudah memakai ganja dari tahun 3.000 sebelum Masehi. Alasan lainnya, terkait hak asasi manusia (HAM). “Di mana relevansinya orang menghisap ganja dengan penjara. Itu kan pilihan, sama seperti rokok, kopi, atau makan kentang,” batasnya.

Direktur Pemberantasan Narkoba Alami BNN Brijen Benny J Marnoto menentang pandangan Dira. Selama Undang-Undang No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika masih berlaku, usulan itu tidak akan tercapai dan legalisasi ganja merupakan perbuatan sia-sia. Benny menambahkan, pihaknya sudah mencoba berdialog dengan kelompok LGN guna mengetahui maksud dari legalisasi ganja yang mereka usulkan. “Kami sudah membuka diri dengan mengundang mereka untuk berdialog. Kalau memang tujuannya untuk penelitian harus dari lembaga yang memiliki izin resmi dan terdaftar, jika itu ada ya silakan.” Jika pertimbangannya ekonomi, menurut Benny, perlu dikajibaik buruknya legalisasi ganja. “Harus dipertimbangkan mudaratnya,” terangnya.

Setiap akhir pekan pada bulan Mei, aktivis legalisasi ganja di sejumlah kota di dunia menggelar aksi ke jalan untuk memperingati Global Mari-juana March. Di Jakarta, aksi digalang LGN dengan membawa berbagai spanduk berisi permintaan untuk melegalkan ganja dan bahwa ganja bukanlah narkoba.

Jumat, 15 November 2013

KONSER REPUBLIK JANCUKERS MAHA CINTA RAHWANA



Surabaya, sukses konser pertama, Sudjiwo Tedjo menggelar konser keduanya pada 19-20 november 2013 di Gedung Jatim Expo Internasional jl. Ahmd Yani N.99 Surabaya. Sekaligus mempersembahkan karyanya untuk Duapuluh Lima Tahun berkiprah di bidang seni musik dan budaya.
Budayawan yang terkenal sebagai Dalang Edan yang nyentrik yang sudah mendalang sejak usia belia ini mengelar konser Maha Cinta Rahwana sebagai tanda perjalanan panjang nan kreatif. Konser tersebut tidak hanya menampilkan serangkaian lagu, tetapi lagu tersebut juga memberikan  alur pengisahan dengan pendekatan wayang dimana Rahwana terkenal sebagai tokoh jahat dijadikan baik dan Pandawa dibuat tidak selalu benar dan tokoh-tokoh lainnya.
Bintang Indrianto menjadi penata music, Agus Noor menjadi show director dan Ong Hari Wahyu menjadi artistik dalam konser tersebut. Bukan hanya Sudjiwo Tedjo saja yang tampil di konsernya namun ada Tujuh artis pendukung yaitu Butet Kertaredjasa, Anji, Sruti Respati, Eka Deli, Tya Subiakto, Sitok Srengenge, Trio GAM (Gareng, Wisben, Joned).

“Konser ini akan mencakup banyak elemen dan ekpresi seni yang selama ini saya geluti, ini adalah pertunjukkan yang sesungguhnya tak otak pementasan tari, pemanggungan baca puisi dan berbagai kategori lain. Dalam pagelarannya, dalang ya menyanyi, ya bersastra, ya menggerakkan wayang, ya menata musik, ya menari” ujar Sudjiwo Tedjo saat jumpa pers Maha Cinta Rahwana di Graha Bakti Budaya,kamis (22/08/13) lalu.

Senin, 28 Oktober 2013

Menulis Berita 5w+1h


Menulis Berita 5w+1h 

Bermanfaat didalam membuat sebuah berita ada unsur-unsur yang perlu di parhatikan yaitu 5W + 1H.unsur ini adalah untuk mengetahui dengan tepat apa yang akan disiarkan atau disampaikan dalam bentuk berita.1. W1 = Whatini adalah untuk menanyakan tentang apa yang akan kita tulis, tema apa yang akan diangkat dalam berita, atau hal apa yang akan dibahas dalam berita tersebut.2. W2 = Whoadalah siapa tokoh yang menjadi tokoh utama di WHAT. unsur siapa selalu menarik perhatian pembaca, apalagi manusia yang menjadi objek berita itu adalah seorang yang aktif di bidangnya.Unsur SIAPA ini harus dijelaskan dengan menunjukkan cirri-cirinya seperti nama, umur, pekerjaan, alamat serta atribut lainnya berupa gelar (bangsawan, suku, pendidikan) pangkat/jabatan.3.  W3 = Whenunsur ini adalah menanyakan kapan peristiwa itu terjadi. jadi dalam sebuah berita tentunya akan menyebutkan kapan waktu peristiwa itu terjadi. misal“peristiwa pengeroyokan seorang mahasiswa itu terjadi pada hari kamis siang sekitar pukul 13.00 waktu setempat”4. W4 = Whereunsur ini menanyakan lokasi kejadian peristiwa (dimana) atau tempat berlangsungnya peristiwa tersebut. contohnya“aksi pengeroyokan tersebut berlangsung tidak jauh dari kampus korban”5. W5 = Whywhy atau kenapa peristiwa itu terjadi. ini menanyakan alasan mengapa peristiwa itu bisa terjadi. disini penulis di tuntut untuk menguraikan penyebab terjadinya peristiwa. contoh“menurut pengakuan pelaku, korban dikeroyok karena telah menghina pelaku dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan kepada pelaku”6. H = Howpertanyaan How / bagaimana ini menggambarkan suasana dan proses peristiwa terjadi.semua unsur diatas sangat perlu di perhatikan dalam menulis sebuah berita.boleh dikata berita tanpa unsur diatas bagai sayur tanpa garam. http://edukasi.kompasiana.com/2010/06/21/unsur-berita-5w1h/

CARA MENULIS BLOG DENGAN RUMUS 5W+IH
CONTOH 
 Pergaulan Bebas di Kalangan RemajaKita lihat contoh dari W5 + H1 di dalam praktek. Pemilihan judul tulisan juga benar2 menarik minat orang untuk membaca. Tulisan ini singkat , jelas dan murni menerapkan kan dalil tsb:Apakah pergaulan bebas itu?
Pergaulan bebas sering dikonotasikan dengan sesuatu yang negatif seperti seks bebas, narkoba, kehidupan malam, dan lain-lain. Memang istilah ini diadaptasi dari budaya barat dimana orang bebas untuk melakukan hal-hal diatas tanpa takut menyalahi norma-norma yang ada dalam masyarakat. Berbeda dengan budaya timur yang menganggap semua itu adalah hal tabu sehingga sering kali kita mendengar ungkapan “jauhi pergaulan bebas”.Siapakah korban-korban yang telah terjerumus dalam pergaulan bebas?”KALANGANREMAJA”,banyak sekali remaja-remaja indonesia yang telah mencoreng budaya indonesia atau negara kita ini.Sehingga dapat mengakibatkan rusaknya para penerus generasi kita.
Kapan itu terjadinya? “ pada saat para anak-anak laki atau perempuan mulai mengalami perubahan bentuk badan atau bisa di bilang juga memasuki frase remaja atau pemrosesan menjadi anak remaja secara perlahan seperti bentuk lekuk badan yang berubah,seperti lelaki misalnya ketika dia sudah di sunat mengalami perubahan bentuk postur tubuhnya yang semakin membesar,dan timbulnya sebuah rangsangan ketika berhadapan dengan wanita yang sama seperti itu beranjak dewasa,dan perubahan pada wanita nampak signifikan sekali seperti buah dada yang semakin membesar,pinggul yang berbentuk semakin melekuk,dll
Dimana pergaulan bebas itu berada?
Atau dimana pergaulan bebas itu terjadi?“Pergaulan bebas itu terjadi dimana saja ,seperti di sekolah,lingkungan rumah,teman sepermainan,teman sekolah,teman kuliah,dll. Oleh karena itu perlu diwaspadai para orang tua – orang tua yang harus sigap memberi pengawasan kepada anaknya,bukan hanya di area sekolah saja,ataupun di area kampus,tetapi kapanpun dan dimanapun,peran orangtua itu sangat penting dalam memperhatikan pergaulan anak-anaknya ketika beranjak dewasa.Mengapa pergaulan bebas itu sangatlah penting untuk di dihindari?
“Karena bagi para anak-anak yg beranjak dewasa sangatlah rentan kepada pendiriannya,,mudah terpengaruh buruk dlm pergaulan bebas.Dan kalau tidak ada tindakan antisipasi bisa hancur penerus generasi anak muda di negeri ini untuk kedepannya.Bagaimanakah solusinya untuk menghindari pergaulan bebas tersebut?
“cara menghindari pergaulan bebas itu tersebut di kalangan remaja adalah:Pendidikan yang cukup,pengawasan orangtua yang tak pernah berhenti,serta jangan lupa untuk beribadah untuk mempertebal iman para anak remaja tersebut.http://www.parokiku.org/content/menulis-itu-gampang-rumus-5w-1-h
 Menulis blog dengan “5W + 1H”Seorang blogger yang selalu setia mengutak-atik blog kesayangannya baik itu sekedar  hoby menulis, mengikuti blog contest atau monetize blog dengan mengikuti berbagai bisnis online, tidak akan pernah lepas dari yang namanya menulis.Berbicara tentang menulis, kegiatan yang satu ini tentunya harus memiliki kaidah-kaidah tertentu agar tulisan yang dipersembahkan dapat mencapai sasaran  dan bisa dinikmati pembaca dengan baik.Dalam dunia jurnalistik dikenal rumus “5W + 1H”.  Rumus ini adalah elemen dasar jika seseorang terjun dalam dunia tulis menulis. Arti 5W itu adalah what (apa), when (kapan), where (dimana/ke mana), why (mengapa), who (siapa), dan how (bagaimana). Ketika kita mulai menulis, hal pertama yang kita tetapkan adalah  judul tulisan. Misal judul tulisan yang akan kita buat adalah “manfaat ngeblog untuk remaja.” Seterusnya kita bisa menerapkan rumus 5W + 1H itu dengan langkah-langkah berikut:What : 1. Apa defenisi blog?2. Apa syarat-syarat seorang bisa ngeblog?3. Apa saja yang diperlukan dalam membuat blog? 4. Apa saja yang bisa dituangkan dalam sebuah blog?5. Apa manfaat ngeblog untuk remaja?When : 1. Kapan saat terbaik untuk memiliki blog?2. Kapan saatnya menulis di blog? 3. Kapan waktu terbaik mengurus blog?Where:
1. Dimana kita bisa ngeblog?2. Dimana/ke mana mencari sumber-sumber untuk membuat konten blog?Why: 1. Mengapa remaja perlu ngeblog?2. Mengapa blog menjadi pilihan?Who: 1. Siapa saja yang akan membaca blog?2. Siapa orang-orang yang diuntungkan?How: 1. Bagaimana gambaran kehidupan remaja saat ini?2. Bagaimana agar blog berguna bagi remaja?3. Bagaimana agar blog bisa meningkatkan kreativitas remaja4. Bagaimana agar blog bisa meningkatkan daya imaginasi remaja?5. Bagaimana agar blog bisa menghindarkan remaja dari narkoba?Dengan menerapkan langkah-langkah di atas, tentunya kita sudah memiliki kerangka tulisan dan menjadi hal yang mudah untuk mengembangkan isi tulisan. Selanjutnya kita tinggal mengembangkan setiap kerangka dengan untaian kata-kata yang mudah dipahami. Dengan rumus 5W+1H, maka semakin banyak pertanyaan dan jawaban yang kita lakukan, maka tulisan akan semakin bagus dan pastinya menulis itu semakin gampang. http://piterbizz.blogspot.com/2011/03/menulis-itu-gampang-kog-asal-dengan-5w.hTeknik Menulis dengan Rumus 5W + 1HDALAM sebuah perbincangan, kawan saya mengatakan, menulis itu gampang-gampang susah. Susah karena bingung bagaimana harus memulai, bingung tak tahu apa yang akan diceritakan. Saya pun menyarankan agar ia menggunakan rumus 5W+1H sebagai panduan dalam menulis. Rumus ini mencakup What, Who, When, Where, Why, How. Sebuah rumus penulisan yang berlaku universal dan mencakup hal-hal dasar yang harus dipenuhi untuk kelengkapan sebuah tulisan. Rumus 5W + 1H ini adalah pedoman dasar penulisan jurnalistik, namun tak salah jika digunakan pula dalam menulis konten blog. Penerapan rumus ini, cukup sederhana, yakni;
·                     WHAT menyatakan apa yang ditulis, menentukan tema apa yang ingin ditulis, semisal tentang peristiwa di sekitar tempat tinggal, masalah sosial atau apapun yang menarik perhatian dan layak diketahui orang lain.
·                     WHO menyatakan tokoh yang terlibat dalam topik yang ditulis. Bila tokoh itu tak cukup dikenal oleh pembaca, maka kewajiban penulis untuk “memperkenalkan” si tokoh dengan menjelaskan siapa dan apa perannya dalam peristiwa yang ditulis.
·                     WHEN menyatakan waktu kejadian dari peristiwa yang diceritakan (WHAT). Jika itu sebuah peristiwa yang terjadi di sekitar tempat tinggal penulis, maka ceritakanlah kapan peristiwa itu terjadi.
·                     WHERE menyatakan tempat terjadinya peristiwa. Keterangan tentang tempat ini dapat ditulis secara lengkap, misalnya dengan menyebutkan nama jalan, nama kota atau nama tempat lainnya agar mudah dikenali.
·                     Sementara WHY menyatakan mengapa peristiwa itu terjadi. Dalam hal ini, mesti diceritakan apa yang menjadi latar belakang dari peristiwa, bisanya sisi inilah yang menjadi bagian paling menarik dari peristiwa.
·                     Kemudian H adalah HOW yang menerangkan bagaimana peristiwa terjadi, paparannya mencakup proses terjadinya peristiwa secara kronologis.
Inilah unsur-unsur dasar yang patut dipenuhi agar tulisan lengkap dan informatif, jangan lupa ketepatan data dalam memenuhi unsur-unsur tulisan itu. Hal ini penting untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman akibat informasi yang kurang akurat. Selanjutnya, memperhatikan penggunaan tata bahasa yang baik dan benar, pilihan kata yang tepat, serta memparkan peristiwa secara detail agar tulisan yang dihasilkan informatif. Tambahkan pula data yang relevan agar informasi yang disajikan lebih akurat.



Kamis, 03 Oktober 2013

ANTROPOLOGI BUDAYA

TRADISI MALAM SATU SYURO PADA ETNIS JAWA

 Upacara Malam 1 Syuro ini, simbol-simbol atau pesan yang terkandung didalamnya mempunyai arti yang sangat penting bagi masyarakat desa Trowulan, mojokerto. Pesan atau simbol tersebut menunjukkan bahwa dalam upacara ini masyarakat harus bisa melestarikan budaya warisan dari nenek moyang terdahulu. Penelitian yang masuk pada kelompok explorasi ini didasari atas fenomena tradisi adat kejawen yang dilakukan setiap tahun baru jawa. Dan yang menarik untuk dilakukan penelitian ini adalah apa pesan komunikasi di balik upacara malam 1 suro.
Untuk mendapatkan pengetahuan yang lengkap maka hasil penelitian harus mendeskripsikan tradisi suroan yang dilakukan setiap tahun di Trowulan. Teori yang dijadikan landasan
(1) Reasoned Action
(2) Teori Efektivitas pesan.
Melalui dua landasan teori ini sebagai dasar untuk menemukan apa makna komunikasi dibalik permasalahan. Gambaran tentang malam 1 suro, yang pertama memilih lokasi penelitian yaitu Desa Trowulan, sebab setiap tahun dalam bulan jawa di sebuah pendopo agung ada tradisi tersebut. Paradigma penelitian ini adalah konstruktivisme, membangun ide tentang peristiwa yang terjadi dalam berbagai cara dan terpola secara relatif. Pendekatan penelitian menggunakan kualitatif dengan penarikan kesimpulan bersifat khusus ke umum, dari fenomena yang ada dihubungkan dengan teori.
Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Dengan menetapkan paguyuban amung tani sebagai responden, mereka yang setiap tahun melakukan upacara malam 1 suro di pendopo agung, Trowulan. Cara memperoleh data dengan menggunakan strategi ”permisi masuk” pada kepala desa dan bertemu tokoh masyarakat. Teknik penyajian data yang di peroleh dari lapangan berupa data lokasi life story responden, dan data untuk menjawab permasalahan yakni pesan komunikasi upacara malam 1 suro pada masyarakat kejawen. Teknik keabsahan data dengan cara triangulasi sumber, triangulasi metode, triangulasi teori.

Hasil penelitian di Trowulan menunjukkan bahwa pesan-pesan yang terkandung dalam upacara malam 1 suro adalah (1) Ritual Sakral, (2) Seni Tradisional yang perlu dilestarikan, (3) Kegiatan komunikasi yang memiliki makna, (4) Grebeg 1 suro sebagai komunikasi sosial, (5) Macapat sebagai kebersamaan, (6) Pagelaran Wayang sebagai media komunikasi.
Satu Suro adalah hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Sura atau Suro, dimana bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender hijriyah yang diterbitkan oleh Sultan Agung. Berlatar belakang dari 1 Muharram di jadikan sebagai awal penanggalan Islam oleh Khalifah Umar Bin Khathab, seorang khalifah Islam di jaman setelah Nabi Muhammad wafat .Pada tahun 931 H atau 1443 tahun jawa baru, yaitu pada jaman pemerintahan kerajaan Demak, Sunan Giri II telah membuat penyesuaian antara system kalender Hijriyah dengan system kalender jawa pada waktu itu.
Diperingati setelah magrib pada hari sebelum tanggal satu biasanya disebut malam satu suro, hal ini karena pergantian hari Jawa dimulai pada saat matahari terbenam dari hari sebelumnya, bukan pada tengah malam.
Banyak pandangan dalam masyarakat Jawa yang menganggap kramat, terlebih bila jatuh pada jumat legi, karena malam 1 suro dikaitkan dengan hal-hal mistis dan berfilosofis. Namun sesunguhnya ada banyak latarbelakang historis peristiwa penting yang terjadi di bulan Suro, khususnya penganut agama Islam, yang tentu saja berafiliasi dengan kebudayaan Mataram Jawa-Hindu. Untuk sebagian masyarakat Jawa pada malam satu suro dilarang untuk kemana mana kecuali untuk berdoa ataupun melakukan ibadah lain.
Dalam antropologi (Koentjaraningrat, 1985:243) mengemukakan bahwa upacara-upacara ritual, baik secara kolektif maupun individual, pelaksanaannya harus memenuhi komponen tempat upacara, saat upacara, alat-alat upacara, dan orang-orang yang melakukan upacara. Begitupun dengan tradisi malam satu suro ini. Ada berbagai ritual yang dilakukan oleh masyarakat Jawa sebagai pelaksana dalam upacara ini, mempersiapkan alat – alat upacara, melaksanakaan rangkaian ritual, dan sebagainya. Hal ini akan diperjelas dalam sub bab pembahasan. Pada dasarnya Orang-orang Jawa menjalani ritual malem 1 Suro dengan berbagai maksud, yang utama adalah mengharapkan perubahan hidup yang lebih baik di tahun akan datang yang akan dijalaninya.


PERINGATAN DAN RANGKAIAN ACARA MALAM SATU SYURA

Acara Kirab Pusaka Kerajaan di Kasunanan Surakarta berkeliling kota menjelang tengah malam 1 Suro, mubeng beteng keliling benteng Keraton Jogja tanpa berkata sepatah kata pun, pencucian benda-benda pusaka (jimat tradisional) di Keraton Kesepuhan Cirebon, ritual Kirab Tumuruning Maheso Suro di kota Bantul Jawa Tengah berikut acara mendengarkan ramalan Mbah Jokasmo yang konon sebagai mediator kanjeng ratu kidul yang diyakini masyarakat setempat sebagai penguasa laut selatan. Dan di Jawa Timur tidak kalah seru, bertempat di area pasarean (pemakaman keramat) Gunung Kawi berbagai acara digelar, ada pertunjukan wayang kulit, barongsai dan juga acara keliling pendopo sebanyak tujuh kali berlawanan arah jarum jam dengan setiap saat berhenti di depan pintu sisi utara, timur, selatan dan barat sambil menghormat ke dalam makam, dengan maksud ngalap berkah, mengharap keberuntungan dan niatan lainnya.
# Malam 1 Suro bagi warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT)
Dalam perjalanan sejarahnya Persaudaraan Setia Hati Terate memiliki tradisi suroan atau dalam bahasa sederhananya menyambut tanggal 1 muharam, yang menjadi sakral dalam penyambutan tanggal tersebut adalah serangkaian ritual seperti cuci mori/kain kafan yang di dapat saat pengesahan jadi warga PSHT dan puter gelang (mengililingi kampung tepat pukul 00.00 dengan berjalan kaki). Mayoritas warga PSHT masih menganggap ini sebagai ritual beraroma mistis dan berorientasi kesaktian, kedigjaya-an, kekuatan magis dsb,
Tidak semua warga PSHT yang mengerti, akan tetapi beberapa warga yang mengerti makna 1 suro dengan benar, ritual “puter gelang” adalah bagian dari pengejawantahan napak tilas keprihatinan leluhur dalam mengemban tugas moral untuk membumikan kebaikan atau dalam bahasa SH terate-nya “memayu hayuning buwono” adapun “kebaikan” dimaksud adalah kebaikan kepada segenap penghuni bumi/alam semesta. harapannya dengan ritual puter gelang, warga SH terate dapat memaknai lebih dalam arti keprihatinan, kesederhanaan, dan kesabaran agar ditahun baru hijriah ini kita dapat lebih bijak menggunakan sisa hidup yang berkurang seiring dengan bertambahnya tahun.
           

Namun bukan hanya Pencak silat ini yang memiliki tradisi yang sama  tapi perguruan lain juga meramaikan dalam suroan ini yaitu Pencak Silat Tunggal Kencer (PSTK) dan Setia Hati Winongo (SHW). Dulu banyak orang yang mengetahui bahwa tiga Pencak Silat tersebut bersaudara, akan tetapi selalu bentrok dalam serangkaian ritual tsb. Itu dikarenakan makam leluhur yang masing - masing   sama dan untuk berziarah mendo’akan di makam pendiri Pencak Silat tersebut. Pada awalnya masih rukun akan tetapi bentrok karena beda keyakinan.
Dan sampai saat ini pun Pencak Silat tsb selalu bentrok, oleh karena itu polisi  di madiun selalu berjaga – jaga guna memisah perselisihan antar Pencak Silat tsb.

# Tradisi Jawa
Dalam tradisi adat jawa Ritual di malam 1 suro yang biasanya masih rutin di jalankan diantaranya;
1)   Ngumbah keris
Ngumbah Keris adalah tradisi mencuci/membersihkan keris pusaka bagi orang yang memilikinya. Dalam tradisi masyarakat Jawa, ngumbah keris menjadi sesuatu kegiatan spiritual yang cukup sakral dan dilakukan hanya waktu tertentu. Lazimnya ngumbah pusaka dilakukan hanya sekali dalam satu tahun yakni pada bulan Suro. Oleh karena ngumbah keris mempunyai makna dan tujuan luhur, kegiatan ini termasuk dalam kegiatan ritual budaya yang dinilai sakral.

2)   Kumkum
Kungkum adalah berendam di sungai besar, sendang atau sumber mata air tertentu, Yang paling mudah ditemui di Jawa khususnya di seputaran Yogyakarta adalah Tirakatan (tidak tidur semalam suntuk) dengan tuguran (perenungan diri sambil berdoa) dan Pagelaran Wayang Kulit.

3)   Tarakat
Ritual Tirakatan berasal dari kata Thoriqot atau Jalan, maknanya adalah kita berusaha mencari jalan agar dekat dengan Allah. Dengan kita melakukan ritual ini tanpa disadari ternyata kegiatan tirakatan ini juga telah meningkatkan kemampuan ketingkat yang lebih tinggi lagi, berupa keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, maupun kemampuan fisik dan pengolahan bathin kita untuk menghadapi berbagai cobaan dan tantangan yang kita hadapi.
4)   Tapa Bisu
Tapa Bisu atau mengunci mulut yaitu tidak mengeluarkan kata-kata selama ritual ini. Yang dapat dimaknai sebagai upacara untuk mawas diri, berkaca pada diri atas apa yang dilakoninya selama setahun penuh, menghadapi tahun baru di esok paginya.
Seperti tradisi Tapa Bisu yang di lakukan di kota Jogja , mereka melakukan untuk memohon perlindungan dan keselamatan kepada Allah SWT dengan harapan diberikan yang terbaik untuk Kota Jogja.


INDEKS

Setiap bangsa memiliki sesuatu yang dinilai dan dihargai sangat tinggi. Bahkan dianggap sebagai nilai yang sangat menantang dalam pengaturan dan pengendalian kehidupan sosial kultural bangsa tersebut. Hal tersebut dinamakan oleh para ahli dengan nama “ Sistem Nilai Budaya Bangsa”. Sistem nilai budaya merupakan suatu konsepsi yang abstrak dan tinggi, merupakan dasar dari semua aturan – aturan sosial yang berlau, antara lain adat-istiadat, norma – norma, hokum adat dan kebiasaan sosial, sistem sosial dan lain – lain. (Kahl,J.A, 1988:9, dalam Simanjuntak,B.A 2010:2).
Sistem nilai budaya merupakan tingkat yang paling tinggi dan paling abstrak dari adat – istiadat. Hal itu disebabkan karena nilai budaya merupakan konsep – konsep mengenai sesuatu yang ada dalam alam pikiran sebagian besar dari masyarakat yang mereka anggap bernilai, berharga, dan penting dalam hidup sehingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman yang memberi arah dan orientasi pada kehidupan para warga masyarakat tadi. Walaupun nilai budaya berfungsi sebagai pedoman hidup manusia dalam masyarakat, tetapi sebagai konsep, suatu nilai budaya itu bersifat sangat umum, mempunyai ruang lingkup yang sangat luas, dan biasanya sulit diterangkan secara rasional dan nyata (Koentjaraningrat, 2009:153).



Menurut C.Kluckhon berkaitan dengan orientasi nilai budaya, terdapat 5 hakekat yang melandasi individu atau kelompok menentukan pada taraf mana sistem nilai budaya yang masih dianut., yakni:

1. Masalah hakekat dari hidup manusia ( selanjutnya disingkat dengan MH)
2. Masalah hakekat dari karya manusia ( selanjutnya disingkat dengan MK)
3. Masalah hakekat dari kedudukan manusia dalam ruang waktu ( MW)
4. Masalah hakekat dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya ( MA )
5. Masalah hakekat dari hubungan manusia dengan sesamanya (MM)

Definisi kebudayaan telah banyak dikemukakan oleh para ahli. Beberapa contoh sebagai berikut:
a)    Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari suatu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai seperorganik.
b)   Andreas Eppink menyatakan bahwa kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan, serta keseluruhan struktur-struktur social, religious, dan lain-lain, ditambah lagi dengan segala pernyataan intelektual dan artistic yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
c)      Edward B. Taylor mengemukakan bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
d)   Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi mengatakan kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
e)    Koentjaraningrat berpendapat bahwa kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar beserta dari hasil budi pekertinya.
f)    M. Jacobs dan B.J. Stern berpendapat bahwa kebudayaan mencakup keseluruhan yang meliputi bentuk teknologi social, ideologi, religi, dan kesenian serta benda, yang kesemuanya merupakan warisan social.
g)   Dr. K. Kupper mengatakan bahwa kebudayaan merupakan sistem gagasan yang menjadi pedoman dan pengarah bagi manusia dalam bersikap dan berperilaku, baik secara individu maupun kelompok.
h)   William H. Haviland berpendapat bahwa kebudayaan adalah seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat di tarima ole semua masyarakat.
i)     Ki Hajar Dewantara mengatakan kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.
j)     Francis Merill mengatakan kebudayaan itu pola-pola perilaku yang di hasilkan oleh interaksi social dan semua perilaku dan semua produk yang dihasilkan oleh sesorang sebagai anggota suatu masyarakat yang di temukan melalui interaksi simbolis.
k)   Bounded et.al mengatakan kebudayaan adalah sesuatu yang terbentuk oleh pengembangan dan transmisi dari kepercayaan manusia melalui simbol-simbol tertentu, misalnya simbol bahasa sebagai rangkaian simbol yang digunakan untuk mengalihkan keyakinan budaya di antara para anggota suatu masyarakat. Pesan-pesan tentang kebudayaan yang di harapkan dapat di temukan di dalam media, pemerintahan, intitusi agama, sistem pendidikan dan semacam itu.
l)  Mitchell (Dictionary of Soriblogy) mengatakan kebudayaan adalah sebagian perulangan keseluruhan tindakan atau aktivitas manusia dan produk yang dihasilkan manusia yang telah memasyarakat secara sosial dan bukan sekedar di alihkan secara genetikal.
m) Robert H Lowie mengatakan kebudayaan adalah segala sesuatu yang di peroleh individu dari masyarakat, mencakup kepercayaan, adat istiadat, norma-norma artistic, kebiasaan makan, keahlian yang di peroleh bukan dari kreatifitasnya sendiri melainkan merupakan warisan masa lampau yang di dapat melalui pendidikan formal atau informal.

n)   Arkeolog R. Sokmono mengatakan kebudayaan adalah seluruh hasil usaha manusia, baik berupa benda ataupun hanya berupa buah pikiran dan dalam penghidupan.